Senin, 22 April 2013

angin yang kuat

hei,

sudah sejauh ini aku melangkah.
tidak mudah dan begitu lelah.

sepatuku sudah hampir rusak,
dan kakiku sudah penuh luka.

lihat, pakaian ku kotor,
mukaku tebal dengan debu jalan.
aku tidak secantik dulu..

mungkin aku tidak segagah dia,
yang tetap rapi meskipun melewati jalan yang sama sepertiku.
ya, aku akui dia memang hebat.
dan aku pernah mengagumi sekaligus membencinya ya Tuhan..

aku pergi dengan mereka sahabatku,
tapi ternyata kerasnya angin lebih kuat dibandingkan erat tangan kami.
 ya..
lebih kuat..

bukan berarti aku menyesalinya, namun ak juga bukan sosok sehebat itu yang mudah saja menerimanya.
aku sempat diam dan ingin pulang,

lihat,
langkahku terseok..
dengan berantakan dan pakaian yang kotor.

maaf.

maaf,
tapi aku tidak menyesal..

genggaman itu memang lepas, tp aku memegang tangan lain
bukan tangan yg halus,
tp tangan yg lebih kuat dan erat.

aku memang terseok,
kotor dan berantakan,
tapi biarlah

ntah bagaimana ketika aku sampai nanti, atau setelahnya.
aku hanya percaya
aku memulainya dalam Dia
dan aku tidak akan kecewa..




Selasa, 19 Maret 2013

Kamu, si Tahu

aku begitu menyukai tahu.
bagiku didunia ini ada 2 tahu,
tahu yang enak dan tahu yang enak sekali.

aku menyukai tahu,





Rabu, 06 Maret 2013

Mentega dan Roti

Kau temanku, ku temanmu
Kita selalu bersama~
Seperti mentega dengan roti

Kau temanku, ku temanmu
Kita selalu bersama~
Seperti celana dengan baju


Ku akan selalu mendukungmu~
Mendorongmu terus maju
Dan bila kau sedih
Ku akan selalu mendoakanmu
Dalam Tuhan..




Kau temanku, ku temanmu
Kita selalu bersama~
Seperti mentega dengan roti

Kau temanku, ku temanmu
Kita selalu bersama~
Seperti celana dengan baju

(Louis - Agustus 2012)

Jumat, 15 Februari 2013

Dua Bata Jelek

Seorang Bikhu muda bersama teman-temannya membangun tempat ibadah secara mandiri pada suatu waktu pada suatu masa. Si Bikhu muda ini kebagian tugas mendirikan sebuah dinding bata. Padahal sebelumnya, ia tidak memiliki pengalaman bertukang sama sekali .
Mendirikan dinding bata sepertinya terlihat mudah. Tinggal oleskan semen, lalu letakkan bata, oleskan semen lagi, letakkan bata lagi, sampai berdiri dinding kokoh rapi setinggi yang diinginkan.

Tapi ternyata tidak semudah kelihatannya bagi dia.
Meratakan posisi bata dan mengukur takaran semen yang pas perlu pengalaman dan ketelitian. Salah ukur, maka dinding akan miring, atau posisi bata akan tidak teratur.
Namun akhirnya, dengan ketekunan khas penganut Budha, dinding buatannya akhirnya berdiri. Sayanganya, setelah selesai dan diperhatikan, Bikhu muda menemukan ada 2 buah bata yang tidak pas penempatannya. Jelek sekali. Miring. Menonjol.

Bikhu muda ini terus menyesali keberadaan 2 buah bata yang merusak dinding karyanya tersebut. Setiap hari, setiap waktu ia menyayangkan cacat dindingnya. Hingga ia meminta pada Bikhu Senior, pimpinannya, agar diijinkan membongkar dinding tersebut dan membangunnya kembali dengan sempurna.
Namun Bikhu senior melarangnya.


Bikhu muda terus menyesali 2 bata tersebut.
Hingga suatu hari, ketika ia sedang menatap dan merutuki dinding batanya itu, seorang peziarah lewat dan memuji dinding tersebut sebagai dinding yang sangat indah.
Bikhu muda memandang peziarah dengan heran, “Indah? apa anda tidak melihat 2 buah bata cacat yang merusak dinding ini?”
Peziarah balik memandang bikhu muda dan berkata,

 “tentu saja saya melihat 2 bata tersebut, tapi saya juga melihat 9998 buah bata lain yang terpasang dengan rapi dan kokoh…”

Sumber : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Selasa, 25 Desember 2012

Sang Supir

oke,
6 bulan sudah cukup untuk penyesuaian dan penggalauan.
bukan karena aku benar-benar sudah siap, tapi karena aku memang harus sudah siap.

ibarat mengemudi, aku adalah sang supir bis amatir.
melewati perjalanan yang penuh bebatuan dan terjal..

seandainya hanya aku, mungkin perjalanan ini telah kuhentikan sejak lama.
tapi..
ternyata aku membawa penumpang,
penumpang yang harus kuantar sampai ke tempat tujuannya.

ya.
6 bulan sudah cukup untuk belajar melewati tanjakan dan jalan berlubang.
walau perjalanan 6 bulan ini kulewati dengan kasar dan lambat.

aku memang  tidak pernah tahu jalan yang akan aku tempuh selanjutnya,


woooohh...!
doakan aku,
semoga perjalanan ini sampai tujuan dengan selamat


salam.

Calon Supir Profesional

Minggu, 11 November 2012

Sepasang Manusia Tua di dalam Gereja Tua

aku ingat ketika masih menjadi maba alias mahasiswa baru yang baru menapaki Jogja.

bersama beberapa sahabat pergi ke Ganjuran, Gereja sekaligus tempat berdoa yang menempuh perjalanan cukup jauh dari Jogja.

itulah pertama kalinya aku merasakan misa full bahasa Jawa dari awal sampai akhir.
menarik, meskipun sama sekali tidak mengerti.
hal lain yang tidak kalah menarik perhatianku adalah hampir semua umat yang datang saat misa itu adalah orang tua, nenek kakek dan nyaris hanya kami yang masih berambut hitam.

aku memperhatikan mereka satu per satu,
rambut putih, tua, dan duduk dengan tenang. tiap keriput dikulitnya seolah bercerita padaku tentang betapa banyaknya kisah yang telah dilewati puluhan tahun. mereka semua hampir sama, dengan penampilan yang sama dan hanya dibedakan dengan balutan pakaian yang mereka kenakan..

sejenak aku memperhatikan teman-temanku, cantik, tampan, rambut yang panjang dan hitam, gagah dan berkulit bersih, tapi apakah semua itu akan bertahan beberapa puluh tahun lagi?

pasti sebagian dari mereka yang kulihat adalah wanita yang cantik dulunya atau pria yang tampan dan gagah.

indah sekali melihat sepasang manusia tua di dalam gereja tua,
dalam diam mereka menampakkan lebih dari sekedar kesetiaan.
 
yaah tiada yang abadi..

ketika orang-orang menilai bahwa sesuatu yang tidak abadi itu adalah hal yang istimewa, itu wajar, karena dunia pun memandang demikian,
tetapi waktu tidak pernah berbohong,,


seandainya nanti, ketika rambutku memutih, ketika langkahku manjadi pelan,
sebelum semua itu, semoga aku bisa melihat sesuatu yang lebih dari sekedar hal yang semu, yaitu seseorang yang mau menemaniku ke gereja sampai rambut memutih..



Jumat, 09 November 2012

Ketika Dunia di penuhi dengan Modus

haaah..
akhir-akhir ini aku lelah dengan modus-modus yang bertebaran disekitarku.
mulai dari teman-teman kuliah, organisasi, senior bahkan junior yang terlihat polos pun sudah teracuni dengan modus..

jujur saja, munafik memang kalau mengatakan dunia remaja menuju dewasa itu tidak lepas dari kegiatan bermodus ria, tapi disadari atau tidak modus menyamarkan ketulusan.

hooo.. aku rindu melihat muka yang ceria tanpa dibuat-buat,
melihat mata yang bersinar cerah tanpa pandangan tertentu,
rindu senyuman mereka yang benar-benar dari hati,
rindu ajakan yang benar-benar tulus,
rindu sikap baik yang memang tulus,
aku rindu tawa lepas orang-orang disekitarku,

...

yaa.. tidak bisa dipungkiri,
makin dewasa makin tahu bahwa dunia tidak sekecil pikiranku selama ini,
jutaan manusia dengan ide dan pola pikir yang berbeda, cara pandang, kondisi dan lingkungan yang membuat dunia semakin samar.



“You've gotta dance like there's nobody watching,
Love like you'll never be hurt,
Sing like there's nobody listening,
And live like it's heaven on earth.”


William W. Purkey